ANTANANARIVO, RK – Ibu kota Madagaskar berubah jadi lautan amarah! Ribuan warga tumpah ruah ke jalan, memprotes krisis listrik dan air bersih yang tak kunjung ditangani. Situasi yang awalnya damai mendadak meledak dalam kerusuhan. Mal besar dijarah dan dibakar massa, rumah politisi dihancurkan, dan kota dipaksa masuk jam malam!
Kamis (25/9), Antananarivo diguncang gelombang demonstrasi terbesar dalam satu dekade terakhir. Mayoritas peserta aksi adalah kaum muda yang selama ini hidup dalam kondisi serba kekurangan akibat minimnya akses terhadap listrik dan air bersih—dua kebutuhan vital yang nyaris jadi barang mewah di negeri kepulauan ini.
“Kami sudah cukup bersabar! Ini bukan sekadar air dan listrik—ini soal hidup atau mati!” teriak salah satu demonstran yang wajahnya dipenuhi debu dan kemarahan.
Polisi langsung turun tangan. Gas air mata ditembakkan ke kerumunan yang mulai beringas. Namun bukannya bubar, massa justru mengamuk. Mal prestisius di pusat kota hangus dibakar, toko-toko dijarah, dan dua rumah anggota parlemen jadi sasaran pelampiasan.
Presiden Andry Rajoelina, yang kembali berkuasa pada 2023, jadi sasaran kritik tajam. Warga menuduh pemerintahannya gagal total dalam memperbaiki layanan dasar, meski janji-janji manis telah dilontarkan berkali-kali.
Jenderal Angelo Ravelonarivo, kepala keamanan gabungan, tampil di layar kaca mengecam kekerasan. Tapi pernyataannya tak cukup meredakan situasi. Kepala Kepolisian Nasional Jean Herbert Andriantahiana Rakotomalala bahkan mengeluarkan ultimatum: siapapun yang melanggar hukum akan ditindak tanpa ampun.
Madagaskar, yang selama ini bergulat dengan kemiskinan struktural, kini berada di ambang krisis nasional. Kemarahan rakyat bukan lagi bara—ia telah menjadi kobaran api yang bisa membakar apa saja. (*)







