INTERNASIONAL-Wabah Ebola kembali merebak di Afrika Tengah. Otoritas kesehatan pada Jumat, 16 Mei 2026, mengonfirmasi munculnya wabah baru di Provinsi Ituri, Republik Demokratik Kongo, dengan ratusan kasus suspek dan puluhan kematian yang telah tercatat sejak beberapa pekan terakhir.
Lembaga kesehatan regional Africa Centres for Disease Control and Prevention (Africa CDC) melaporkan sedikitnya 246 kasus suspek Ebola ditemukan di zona kesehatan Mongwalu dan Rwampara. Dari jumlah itu, 65 orang dilaporkan meninggal dunia, termasuk empat kasus yang telah dipastikan positif melalui pemeriksaan laboratorium.
Kemunculan wabah ini memicu kewaspadaan negara-negara tetangga. Uganda pada hari yang sama mengonfirmasi satu kematian akibat Ebola yang diduga berkaitan dengan penularan dari Kongo. Korban merupakan pria asal Kongo yang sempat dirawat di rumah sakit di Kampala sebelum meninggal dunia.
Kementerian Kesehatan Uganda menyatakan pasien baru menjalani pemeriksaan setelah wafat, menyusul pengumuman resmi wabah Ebola di Kongo. Seluruh orang yang sempat melakukan kontak dengan pasien kini dikarantina untuk mencegah penyebaran lebih luas. Jenazah korban telah dipulangkan ke Kongo.
Ebola dikenal sebagai penyakit mematikan dengan tingkat penularan tinggi melalui cairan tubuh, seperti darah, muntahan, dan cairan biologis lainnya. Penyakit ini kerap menyebabkan demam berat, pendarahan, hingga kegagalan organ.
Para ilmuwan kini masih menyelidiki jenis virus yang memicu wabah terbaru tersebut. Selama ini, wabah di Kongo umumnya didominasi strain Ebola Zaire, varian paling mematikan. Namun hasil awal penyelidikan menunjukkan kemungkinan adanya jenis virus lain di luar strain tersebut. Proses pengurutan genetik masih berlangsung untuk memastikan sumber wabah.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyebut sedikitnya tiga jenis virus Ebola diketahui dapat memicu wabah besar, yakni virus Ebola Zaire, virus Sudan, dan virus Bundibugyo. Uganda menyatakan pasien yang meninggal di Kampala terinfeksi virus Bundibugyo, salah satu varian Ebola yang memang endemik di negara itu.
Situasi ini juga menimbulkan tantangan dalam penanganan vaksinasi. WHO sebelumnya menyatakan Kongo memiliki sekitar 2.000 dosis vaksin Ebola Ervebo. Namun vaksin itu hanya efektif melawan strain Ebola Zaire dan tidak memberikan perlindungan terhadap virus Sudan maupun Bundibugyo.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan organisasinya telah mengirim tim ke Kongo sejak pekan lalu untuk membantu investigasi wabah dan pengambilan sampel. Menurut dia, hasil awal sempat belum memastikan keberadaan Ebola, tetapi analisis lanjutan akhirnya mengonfirmasi penyakit tersebut.
“Kongo memiliki rekam jejak yang kuat dalam respons dan pengendalian Ebola,” kata Tedros. WHO juga menyiapkan bantuan darurat sebesar US$ 500 ribu untuk mendukung penanganan wabah di negara itu.(*)







