MUARATEBO RK– Dunia pendidikan di Kabupaten Tebo kembali menjadi sorotan. Seorang siswa SMP Negeri 22 Kabupaten Tebo, Muazzam Octa Priyansah (14), di duga menjadi korban pengeroyokan oleh sembilan orang kakak kelas di lingkungan sekolah pada Rabu, 13 Mei 2026.
Akibat kejadian tersebut, korban di kabarkan mengalami trauma berat dan enggan kembali bersekolah. Pihak keluarga mengaku kecewa dan tidak terima atas peristiwa yang menimpa anak mereka.
Menurut keterangan keluarga, pihak sekolah di nilai belum mengambil langkah tegas terhadap para siswa yang di duga terlibat dalam aksi kekerasan tersebut. Bahkan, pada Sabtu, 16 Mei 2026, guru BP disebut mendatangi rumah keluarga korban untuk melakukan upaya perdamaian.
Namun, langkah tersebut justru menimbulkan kekecewaan dari pihak keluarga karena dianggap belum disertai tindakan di siplin yang jelas terhadap para terduga pelaku.
“Anak kami trauma dan takut masuk sekolah lagi. Kami kecewa karena sampai sekarang belum ada tindakan tegas dari pihak sekolah,” ujar Lia, ibu korban.
Kasus ini menjadi perhatian publik karena di duga terjadi di lingkungan sekolah, yang seharusnya menjadi tempat aman bagi siswa untuk belajar dan berkembang.
Pihak keluarga juga mempertanyakan pengawasan sekolah sehingga dugaan aksi kekerasan secara bersama-sama terhadap seorang siswa dapat terjadi.
Sementara itu, keluarga korban memastikan akan membawa persoalan ini ke jalur hukum. Mereka menyatakan dalam waktu dekat akan membuat laporan resmi ke pihak kepolisian.
“Kami akan membuat laporan langsung ke Polres. Kami ingin ada keadilan untuk anak kami,” tegas orang tua korban.
Dinas Akan Panggil Kepsek
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tebo melalui Kabid SD dan SMP, Rahman, mengatakan pihaknya belum menerima laporan resmi terkait kejadian tersebut.
“Kami baru mendapatkan informasi dari teman-teman media. Secepatnya kami akan memanggil kepala sekolah yang bersangkutan untuk meminta keterangan dan menentukan langkah yang akan di ambil. Apakah hanya satu korban atau ada korban lainnya, nanti akan kami sampaikan kembali kepada rekan-rekan media,” ujarnya.
Kasus dugaan kekerasan antar pelajar ini di harapkan menjadi perhatian serius bagi semua pihak, terutama sekolah dan instansi pendidikan, agar lingkungan pendidikan benar-benar menjadi tempat yang aman serta bebas dari intimidasi dan kekerasan.(*)






