JAKARTA,RK– Di tengah ketimpangan lahan yang kian melebar, krisis ekologis yang menganga, serta pudarnya ikatan rakyat dengan akar budayanya, PDI Perjuangan kembali menegaskan arah perjuangannya: tanah dan Pancasila. Melalui Badan Kebudayaan Nasional (BKN), partai banteng ini meluncurkan Festival Desa ke-5 di Taman Suropati, Jakarta, Minggu (5/10).
Festival dengan tema “Di Atas Tanah Kita Berdiri, Dari Desa Kita Mengakar” itu bukan sekadar pesta seni, melainkan seruan ideologis: kemakmuran dan keadilan sosial hanya akan tumbuh bila bangsa ini berdamai dengan sejarah, akar budaya, dan nilai kemanusiaannya.
Ketua DPP PDIP Bidang Kebudayaan Rano Karno menegaskan kembali makna desa sebagai pusat peradaban.
“Desa adalah rahim peradaban Indonesia. Menoleh ke desa bukan berarti mundur, tapi memastikan langkah kita ke depan tetap berpijak di atas tanah yang adil, lestari, dan berdaulat,” ujarnya.
Rano mengingatkan pesan Bung Karno tentang desa sebagai fondasi negara.
“Dengan merawat desa, kita sedang merawat Indonesia. Dari tanah yang kita pijak dan akar budaya yang kita rawat, bangsa ini menegaskan diri sebagai negeri yang berdaulat, berbudaya, dan berpihak kepada rakyat,” tegasnya.
Festival ini lahir dari kesadaran politik kebudayaan. Sebab, tanpa tanah, rakyat kehilangan jati diri dan arah perjuangan. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat lebih dari 2.400 konflik agraria dalam lima tahun terakhir—sebuah alarm keras bahwa Pasal 33 UUD 1945, UUPA 1960, Pancasila, dan Trisakti perlu dibumikan kembali.
Melalui seni desa, gagasan keadilan sosial dihidupkan kembali dalam bentuk yang paling membumi: gotong royong. My Esti Wijayati, Ketua DPP PDIP Bidang Pemuda dan Olahraga, menegaskan peran generasi muda dalam menghidupkan Pancasila.
“Pancasila tidak berhenti di ruang kelas atau seremoni. Ia hidup di sawah, di pasar, di jalan-jalan desa tempat solidaritas tumbuh alami,” ungkap Esti.
Sementara itu, Ketua Panitia Ibrahim Rusli Jr menyebut tema agraria festival ini sebagai ekspresi syukur sekaligus cinta tanah air.
“Melalui karya seni, kita belajar menjaga bumi, menghormati tanah, dan mencintai negeri ini dari akar yang paling dalam: desa,” katanya.
Festival Desa ke-5 menghadirkan lomba video kreatif dan puisi berdurasi 7–15 menit dengan filosofi pitulungan (pertolongan) sebagai simbol gotong royong. Para peserta akan memperebutkan Piala Megawati – Kawal Pancasila dari Desa dengan total hadiah ratusan juta rupiah. Tiga pakar, Vivian Idris, Peri Sandi Huizche, dan Adi Nugroho, akan menjadi juri.(rik)







