KERINCI, RK – Kecamatan Sitinjau Laut, terasa berbeda hari itu. Di antara aroma malam panas dan kepulan asap canting, dua sosok perempuan berbalut senyum ramah hadir membawa kehangatan: Novra Wenti Monadi, istri Bupati Kerinci, dan Septi Malinda Murison, istri Wakil Bupati.
Mereka tidak datang sebagai tamu kehormatan semata, melainkan sebagai sahabat bagi para pengrajin lokal yang dengan tekun menjaga denyut tradisi di balik setiap goresan kain. Di sebuah rumah yang kini menjadi sentra produksi Batik Panawuo, keduanya menyapa hangat para perajin, menatap kagum deretan motif batik yang sarat kisah tentang alam dan budaya Kerinci.
Namun yang paling menarik, bukan sekadar kunjungan formalitas. Novra Wenti dan Septi Malinda ikut mencoba membatik secara langsung. Dengan hati-hati mereka menggenggam canting, menorehkan garis-garis sederhana di atas kain putih yang seolah hidup oleh sentuhan tangan mereka. “Ternyata membatik itu butuh kesabaran luar biasa,” ucap Septi sambil tersenyum, sementara para pengrajin menyaksikan dengan bangga.
Bagi Novra Wenti, Batik Panawuo bukan sekadar produk kerajinan. Ia adalah identitas daerah, cerminan dari keindahan alam Kerinci yang patut dijaga.
“Saya berharap Batik Panawuo bisa menjadi salah satu batik andalan Kabupaten Kerinci. Motifnya harus terus dikembangkan agar tetap menggambarkan kekhasan budaya dan alam kita,” ujarnya penuh semangat.
Ia juga mengingatkan pentingnya inovasi dan kreativitas agar batik Kerinci dapat bersaing di pasar nasional tanpa kehilangan ruh lokalnya.
Di sisi lain, sang pemilik, Neli Maryati, tak mampu menyembunyikan rasa haru. Kehadiran dua tokoh perempuan itu baginya adalah bentuk nyata perhatian dan penghargaan terhadap perjuangan para pengrajin kecil.
“Saya sangat berterima kasih atas dorongan dari Ibu Bupati dan Ibu Wakil Bupati. Ini menjadi semangat baru bagi kami untuk terus berkarya dan mengangkat nama Kerinci lewat batik,” ungkapnya.
Batik Panawuo dikenal dengan motif-motif yang memikat: bunga endemik Kerinci, biji kopi, panorama danau, hingga megahnya Gunung Kerinci. Beberapa corak bahkan menyisipkan aksara incung, tulisan kuno khas daerah ini menjadikan setiap lembar kain seolah menyimpan cerita panjang tentang warisan dan kebanggaan.
Kunjungan sederhana itu meninggalkan kesan mendalam. Di balik tawa dan obrolan hangat, tersimpan makna besar: dukungan moral bagi para pelaku UMKM yang terus berjuang menjaga warisan budaya.
Ketika sore menjelang dan kunjungan usai, sisa panas malam di wajan batik perlahan mereda. Namun semangat yang ditinggalkan dua srikandi Kerinci itu justru menyala lebih terang seperti warna-warna Batik Panawuo yang tak pernah pudar oleh waktu.(lek)

















