REPORTASE.com — Tak cukup dengan membakar sentimen terhadap Malaysia, media China kini ikut-ikutan melirik Indonesia. Tuduhan datang dari laman 163.com, yang menyoroti kasus naturalisasi pemain Malaysia—lalu, entah bagaimana caranya, menyeret Indonesia dan Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, ke dalamnya. Logikanya loncat jauh, tapi tetap disampaikan seolah kebenaran.
Kasus Malaysia memang pelik. Tujuh pemain naturalisasi yang memperkuat timnas dalam laga kontra Vietnam disebut menggunakan dokumen tak sah. Dugaan pemalsuan itu kini berujung pada sanksi. Sampai di sini, tak ada yang salah dengan sorotan media asing.
Masalahnya, ketika naturalisasi Indonesia—yang dijalankan terbuka, legal, dan sesuai prosedur FIFA—ikut dijadikan bahan tuduhan, aroma sentimen mulai tercium. Tanpa bukti, media China itu menyebut Indonesia bisa menjadi sasaran selanjutnya. Bahkan, nama Erick Thohir ikut diseret dengan dugaan absurd: menyiapkan dana untuk memantau kasus di CAS. Tidak ada konfirmasi, tidak ada data. Hanya bunyi kosong yang dibungkus opini.
Indonesia bukan Malaysia. Para pemain naturalisasi kita—Rafael Struick, Ivar Jenner, hingga Justin Hubner—adalah keturunan Indonesia, bukan pembelian instan demi prestise. Prosesnya panjang, melibatkan verifikasi, sidang di DPR, hingga restu Presiden. Bahkan dalam kasus Maarten Paes, Indonesia berani melawan FIFA di CAS dan menang. Sebuah kemenangan hukum yang tidak akan mungkin dicapai tanpa prosedur yang sahih.
Justru, tuduhan dari media China ini patut dicurigai sebagai upaya pengalihan. Negara yang kerap bersikap tertutup terhadap transparansi sepak bolanya kini justru sibuk mengatur jari ke luar negeri. Bukankah lebih elegan bila energi itu dipakai untuk membenahi federasi mereka sendiri?
Erick Thohir, dalam konteks ini, bukan tanpa cela. Tapi jika tuduhan dilemparkan tanpa dasar, kita wajib bersikap. Diam bukan pilihan. Sebab jika yang bersuara adalah suara miring tanpa bukti, maka melawan balik dengan fakta menjadi satu-satunya jalan.
Publik Asia Tenggara seharusnya tidak terjebak pada framing yang menjatuhkan sesama. Naturalisasi bukan tabu, selama dijalankan dengan jujur. Jika Malaysia bersalah, biarlah hukum berjalan. Tapi menuduh Indonesia dengan dasar “karena banyak pemain keturunan” adalah penghinaan terhadap akal sehat.
Ini bukan sekadar isu sepak bola. Ini ujian integritas. Dan kita tahu, siapa yang bermain curang dan siapa yang sedang dicurangi.(tim)







