RK-Saling serang melalui Media Sosial (Medsos) dan Pemberitaan atau sering diistilahkan “Perang Udara” antar simpatisan kandidat Calon Kepala Daerah (Cakada) intensitasnya semakin meningkat.
Tingginya intensitas itu dianggap wajar lantaran penggunaan Medsos dianggap efektif dalam membangun citra kandidat dan lebih cepat dalam menyebarkan informasi.
Pengamat Politik, Dedek Kusnadi memberikan pandangannya terkait implikasi penggunaan Medsos bagi Cakada.
Dedek menjelaskan Medsos memiliki peran yang signifikan dalam meningkatkan popularitas dan elektabilitas kandidat dalam kontestasi politik.
Ada beberapa alasan mengapa Medsos memiliki pengaruh besar. Diantaranya,pertama,jangkauan luas dan cepat.Media sosial memungkinkan kandidat untuk menjangkau audiens yang sangat luas dalam waktu singkat.
Informasi dapat disebarkan dengan cepat melalui platform seperti Facebook, Twitter, dan Instagram, yang memungkinkan kandidat untuk berkomunikasi langsung dengan pemilih tanpa perantara.
“Oleh karena itu peran media sosial di era digital ini sangat mempengaruhi politik langsung saat ini,” ujar Dedek.
Kedua, interaksi langsung dengan pemilih.Melalui Medsos, kandidat dapat berinteraksi langsung dengan pemilih, menjawab pertanyaan, dan mendengarkan aspirasi mereka.
Hal ini dapat meningkatkan keterlibatan pemilih dan memberikan kesan bahwa kandidat peduli dan responsif.
“Bahkan sebalik nya, mampu mengkritisi kandidat calon yang tidak sesuai dengan apa yang diingginkan publik,”jelas Dedek.
Kemudian yang ketiga dari sisi biaya, penggunaan media sosial lebih efektif.
“Kampanye melalui media sosial relatif lebih murah dibandingkan dengan media konvensional seperti televisi dan radio. Ini memungkinkan kandidat dengan anggaran terbatas untuk tetap berkompetisi secara efektif,” tambahnya.
Selanjutnya yang ke empat adalah personalisasi pesan.Medsos memungkinkan kandidat untuk menyesuaikan pesan mereka sesuai dengan demografi dan preferensi audiens. Dengan data yang tersedia di platform, kandidat dapat mengarahkan pesan mereka dengan lebih tepat sasaran.
Namun, meskipun media sosial menawarkan banyak keuntungan, penggunaan kampanye hitam (black campaign) dapat menjadi bumerang bagi kandidat yang menyerang.
Dijelaskan Dedek ada beberapa dampak negatif penggunaan Medsos dalam kampanye. Misalnya munculnya reaksi negatif dari publik.
“Publik sering kali tidak menyukai kampanye negatif atau serangan pribadi.Kandidat yang terlalu sering melakukan serangan terhadap lawan dapat dianggap tidak etis dan kehilangan simpati pemilih,” ujar Dedek.
Akibatnya hal ini akan meningkatkan elektabilitas lawan.Kampanye hitam dapat memberi perhatian lebih kepada lawan, yang mungkin justru meningkatkan visibilitas dan elektabilitas mereka.
“Publik bisa menjadi penasaran dan mencari tahu lebih banyak tentang kandidat yang diserang.”
Apalagi, kata Dedek, risiko ketahuan kebohongan.Jika kampanye hitam didasarkan pada informasi yang tidak akurat atau palsu, dan kebenaran akhirnya terungkap, kandidat yang melakukan serangan bisa kehilangan kredibilitas. Ini dapat merusak reputasi mereka secara permanen.
Dedek juga menjelaskan tentang efek viral negatif, Medsos memiliki kemampuan untuk membuat konten viral dengan cepat.
Kampanye hitam yang terungkap sebagai fitnah atau serangan tidak berdasar dapat menyebar luas dan menimbulkan reaksi balik yang masif terhadap kandidat yang menyerang.
Sebagai kesimpulan, media sosial memiliki pengaruh besar dalam meningkatkan popularitas dan elektabilitas kandidat melalui jangkauan luas, interaksi langsung, biaya efektif, dan personalisasi pesan.
Oleh sebab itu kampanye hitam bisa menjadi bumerang jika tidak dilakukan dengan hati-hati, karena bisa memicu reaksi negatif dari publik, meningkatkan elektabilitas lawan, merusak kredibilitas, dan menghasilkan efek viral negatif.
“Oleh karena itu, kandidat tim dan relawan bakal calon kandidat politik, perlu menggunakan media sosial dengan bijak dan etis untuk memaksimalkan manfaatnya dalam melakukan sosialisasi dan edukasi agar tercipta demokrasi yang sehat,” pungkas Dedek.(kin)







