Oleh Redaksi
REPORTASE. com-Di balik lanskap megah Gunung Kerinci, sejuknya Danau Kaco, dan hamparan perkebunan teh Kayu Aro, ada satu kekayaan lain dari Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh yang kerap terlupakan dalam peta pariwisata nasional: kulinernya.
Kerinci bukan sekadar tempat bagi para pendaki atau penikmat alam. Ia juga adalah ruang bagi para pencari rasa—mereka yang tak hanya ingin melihat, tapi juga merasakan denyut hidup masyarakat melalui makanan. Dan di sinilah cerita tentang 7 rumah makan legendaris itu mulai mengalir, bukan sekadar sebagai tempat makan, tapi sebagai penjaga identitas rasa lokal yang kaya.
Lebih dari Sekadar Hidangan
Kita tidak sedang membicarakan restoran modern ber-AC dengan plating mewah. Kita sedang berbicara tentang rumah makan yang tumbuh dari tanah, dari tradisi, dan dari tangan-tangan yang mewariskan resep secara turun-temurun.
Lihatlah RM Minang Soto di pusat Kota Sungai Penuh. Di sana, setiap semangkuk soto adalah sejarah dan pengingat akan migrasi budaya Minang yang kini telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Kerinci. Sementara itu, di RM Danau Kaco, sepiring nasi payo yang tampak sederhana ternyata menyimpan filosofi—bahwa kelezatan bisa hadir dari hal-hal paling dekat dengan tanah kita sendiri.
Sajian ikan segar di RM Simpang Jujun dan RM Gulai Ikan Semah menjadi bukti lain bahwa Kerinci tidak perlu bergantung pada bahan impor untuk menciptakan keunikan rasa. Ikan semah yang langka itu, misalnya, tak hanya enak—ia adalah simbol perairan yang bersih dan ekosistem yang dijaga.
Rasa yang Tak Bisa Dibeli
Dan kemudian, datanglah RM Dendeng Batokok, rumah makan yang disebut oleh pengunjung sebagai tempat dengan “sambal tak bisa diungkapkan dengan kata-kata”. Ungkapan ini, meski terdengar hiperbolik, justru menunjukkan satu hal penting: ada rasa yang tak bisa disalin, hanya bisa dirasakan di tempat asalnya.
“Pedasnya itu loh, bikin saya pengen bungkus buat dibawa pulang,” ujar Emilya, pengunjung asal Kota Jambi. Dalam komentarnya yang sederhana, kita bisa menangkap satu fakta besar: bahwa rasa bisa mengikat seseorang dengan tempat.
Melestarikan, Bukan Sekadar Menjual
Namun di tengah geliat promosi pariwisata nasional yang sering terlalu fokus pada keindahan visual, kuliner lokal seperti ini justru kerap luput dari perhatian. Padahal, di sinilah kekuatan jangka panjang pariwisata lokal bisa tumbuh.
Rumah makan seperti RM Ilok Rupo dan RM Marantama bukan hanya menyediakan makanan. Mereka membangun komunitas. Mereka menjadi tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga cita rasa tetap hidup di tengah gempuran makanan cepat saji dan tren instan.
Menjaga Identitas Lewat Rasa
Jika pemerintah daerah serius ingin menjadikan Kerinci sebagai destinasi wisata kelas nasional bahkan internasional, maka kuliner harus diletakkan sejajar dengan danau, gunung, dan kebun tehnya. Promosi kuliner bukan sekadar agenda festival musiman. Ia butuh dokumentasi, pelestarian, dan pendampingan agar resep-resep tua tidak punah ditelan zaman.
Dalam semangkuk gulai semah, sepiring nasi payo, atau sambal dendeng yang membara, tersembunyi satu hal yang tidak bisa direplikasi oleh daerah lain: identitas.
Dan di era ketika segala sesuatu bisa dikloning, identitas rasa adalah satu-satunya yang otentik. Dan karenanya, ia harus dijaga.
Kuliner bukan pelengkap, melainkan tulang punggung pariwisata yang berkelanjutan. Jika Kerinci ingin dikenang bukan hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga kehangatan sambalnya, maka saatnya kuliner diberi panggung utama.(tim)






